Jika hidup adalah pilihan maka pilihan hidupnya adalah
menjadi orang yang sempurna. Bukan karena ia ingin muluk atau tidak tahu diri,
namun terkadang kita memang tak butuh alasan yang jelas untuk sebuah pilhan
dalam hidup.
Suasana pagi yang selalu sepi, tenang tanpa kegaduhan yang
menyiksa. Itulah yang senantiasa menjadi penantiannya setiap hari. Walau bukan
moment yang lama, hanya beberapa menit saja, sayang terlalu berharga. Harmoni
alami yang disenandungkan alam, menemaninya mengarungi sepi. Ya, selalu begitu
hingga cerita ini akhirnya dimulai.
“Selamat pagi dunia, kau tahu hidup ini terlalu pahit jika tak ada
pagi. Matahari adalah awal dari kebahagiaan hingga berlanjut pada berbagai
macam rasa yang mewarnai dunia. Selalu begitu, kau tahu? Sampai....” suara
hatinya kala itu.
“Eh, kamu udah datang. Kok malah kamu sih yang datang pagi-pagi
begini?” ujar salah satu temannya pagi itu.
“Heh! Aku juga mau ngomong hal yang sama lho..” jawabnya.
“Oh ya? Ya udah, pulang aja sana.”
“Kenapa gak kamu aja yang pulang? The freak one!”
“The freak one? Siapa sih yang freak sebenarnya?”
“Kamu!” ujarnya lagi sembari berlalu tak acuh.
Jika selama
ini pagi adalah awal yang bahagia, senandung alam yang alami kaya bersamanya, maka
dimulai dari percakapan itulah pagi kehilangan awal bahagianya, kehilangan
senandung alam alami yang biasa mengirinya.
“Baday! Haruskah pagi menjadi buruk karena kehadirannya?
Menyebalkan! Kenapa juga takdir mempersatukan kami di kelas yang sama? Aaakh!”
***
Seperti biasa, ia tengah berjalan seorang diri mengarungi
lautan manusia. Meski suasana sekitar ramai oleh hiruk pikuk yang mewarnainya,
namun baginya tidak. Aura sepi senantiasa menemani tiap langkah yang terayun.
Pasalnya, ia sedang dongkol. Entah sudah berapa pagi yang dilaluinya bersama
‘teman’ barunya itu. ‘The freak one’ begitu ia menyebut ‘teman’ baru yang setia
merusak pagi indah yang selama ini selalu menemaninya. Ya, dia memang selalu
begitu. Hidupnya adalah dia dan hanya dia. Hal paling penting di dunianya
hanyalah dirinya. Kenyamanan paling tinggi adalah kesendirian yang memagut
diri. Bukan, bukan sebab ia membenci orang lain selain dirinya. Dia hanya tidak
peduli siapa-siapa kecuali dirinya. Hingga beberapa waktu lalu selalu begitu,
sampai dimulailah cerita ini.
“Pohon, mungkin aku ini orang gila. Tapi.. ya, aku memang
tak punya tempat untuk menyalurkan keluh kesahku. Bukannya aku menjadikanmu
pelampiasanku, hanya saja aku sudah mulai frustasi dengan situasi ini. Dengar,
aku baru saja menduduki kelas baruku. Dan di kelas baru itu jugalah aku
kehilangan pagi indahku,” ujarnya di bawah pohon rindang belakang sekolah.
“Aku membencinya. Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku
begitu membenci seseorang. Selama ini semua orang yang terlibat dalam hidupku
sama sekali tak membekaskan apa-apa pada hatiku. Mereka hanya datang dan pergi
silih berganti tanpa sisa. Aku bahkan tak dapat mengingat dengan jelas, sekedar
hal-hal umum tentang mereka. Jelas, sebab selama ini aku hanya peduli dengan apa-apa yang kuanggap
penting,” ocehnya lagi masih di tempat yang sama.
“Tidak pohon, jika kau masih mendengarkan. Aku sama sekali
tak ingin disebut makhluk individualisme. Ya, meski keberadaanku memang
cendrung sendiri. Aku akan merasa hangat saat pagi menjelang. Perlahan kujalani
hari yang damai, mengikuti alur yang ada. Begitu saja, begitu cukup. Namun
sekarang itu semua berubah hanya karena satu objek. Kau tahu? Keberadaannya
begitu menyiksaku. Merusak pagiku yang hangat, menghancurkan sepiku yang
tentram. ‘The freak one’ dia benalu,” lanjutnya masih menyalurkan keluh kesah
pada sang pohon.
Dia masih sibuk, belum cukup puas. Entah didengar atau
tidak, dia memang tidak akan peduli. Begitu, begitu juga pada orang-orang
sekitar yang mulai mencemooh dan menaruh keraguan akan kewarasannya. Tidak
peduli, juga pada seorang ‘teman’ yang ternyata tanpa sengaja mencuri dengar
ritual penyaluran keluh kesahnya di siang yang terik itu.
Senyum simpul menghiasi wajah ‘teman’ tersebut. Mungkin mestinya
bukan itu ekspresi yang pas yang harus diperlihatkannya. Hanya saja sedikitnya
dua ujung bibirnya memang tergelitik untuk mencipta garis lengkung di sana.
Perlahan dia tertawa.
“Orang aneh ya? Aku baru sadar kalau aku seaneh itu di
matamu,” ujarnya sembari berlalu, mengakhiri kegiatan mencuri dengarnya di
siang yang terik itu.
***
Jika seminggu belakangan paginya rusak oleh seorang ’teman’
baru, maka dua hari ini paginya kembali pulang menjadi pagi yang hangat dan
tenang. Semua kembali, senandung alam yang alami kembali bersemi. Sepi kembali
memagut menemani hari. Kesempurnaan yang sempat hilang kini dikembalikan. Ya,
awalnya memang begitu. Seolah inilah hal paling dinanti dalam kesengsaraannya.
Sayang, perlahan ia merasa kosong. Paginya, senandung alaminya, sepinya yang
tentram, semua terasa bukan apa-apa lagi. Untuk pertama kali dalam hidupnya,
dunianya dialihkan. Untuk pertama kali, ia beralih dari dirinya sendiri. Untuk pertama
kali, ada hal yang mencuri perhatiannya selain apa-apa yang selama ini
dianggapnya penting. ‘Teman’ baru itu, ia yang selama seminggu belakangan
menjadi benalu, pengganggu, perusak, dialah pencuri perhatinnya untuk pertama
kalinya.
Dan kekosongan lagi kehampaan itu dicoba ditepis dengan
berusaha menikmati sakitnya. Berusaha kembali ke jalur awal. Kembali memagut
sepi yang tentram. Melupakan kenyataan bahwa perhatiaannya telah dicuri seorang
pencuri ulung. Tidak, tidak mampu tentu. Ia terlanjur kehilangan satu-satunya
perhatian terpenting dalam hidupnya. Sudah teralih, mesti dialihkan. Walau
tanpa sadar sekalipun, ia mulai memperhatikan pencuri ulung itu. Mulai
melupakan pagi yang menyeret keterlibatan hidupnya pada sang pencuri.
“Ne, udah buat PR?” tanya seorang teman.
“Ha? Kamu ngomong sama aku?” jawabnya kikuk.
“Ya, ‘the freak one’,” jawabnya sembari memamerkan barisan
gigi putih.
“Ahaha. Maaf, nama kamu siapa ya?” tanpa diduga untuk
pertama kalinya ia tertawa pada sang ‘teman’ baru.
“Keterlaluan kamu, Ne. Udah selam ini kita sekelas?”
jawabnya dengan wajah kecewa.
“Lamakah? Seingatku belum sebulan, The Freak One!?” jawabnya
kembali tertawa.
“Andre. Kamu Inne kan? Andre Atmadja. Pakai D dan J. Jangan
lupa ya.. “ jawabnya lalu berlalu dengan tak lupa sebelumnya memamerkan lembali
barisan gigi putihnya.
***
Dan dimulailah kisah barunya, pagi awal bahagia dengan
senandung alam dan sepi yang tentram kini benar-benar telah kembali. Hanya penikmatnya
bukan hanya dia bersama kesendirian, namun ia bersama ‘teman’ barunya, pencuri
ulung perhatiannya.
“Selamat pagi dunia, kau tahu hidup ini terlalu pahit jika tak ada
pagi. Matahari adalah awal dari kebahagiaan hingga berlanjut pada berbagai
macam rasa yang mewarnai dunia. Selalu begitu, kau tahu? Sampai kapan pun akan
begitu. Meski dulu aku pernah meragu, bahkan berkesimpulan sesukaku. Kini
hatiku benar-benar yakin. Dan lagi, sendiri memagut sepi, pagiku terlalu
berharga untuk dinikmati sendiri. Ya, boleh kuberi tahu? Kisah ini dimulai dari
pagi bersama ‘the freak one’. Ahaha, orang aneh cendrung tercipta untuk orang
aneh,” suara hatinya kala itu di bawah pohon di belakang sekolah. Duduk bersama
sang pencuri perhatian, bukan lagi menyalurkan keluh kesah namun menepis segala
gelisah.