Teman
Kelas ini bising, mereka
berkeliaran seperti semut-semut pekerja. Begitu riuh, begitu ramai. Di sudut
sana tertangkap oleh sudut mataku gerombolan para tetua, begitu kami
menyebutnya. Hanya sekelompok anak manusia sebenarnya. Terdiri dari mereka-mereka
yang punya nama tersehor, bajet berlimpah dan pencapaian nilai yang mudah.
Sungguh, jika boleh jujur, aku iri.
Kuayun lagi pandangan mataku.
Kali ini potret persemakmuran cupu. Mereka sibuk, terlalu sibuk dengan dunia
mereka. Di depan mereka ada layar lebar yang setia menemani, semacam pacar
sepanjang waktu. Terkesan, bukan. Mereka memang tidak peduli dengan dunia luar.
Mereka terlalu bahagia dengan dunia mereka sendiri. Dan parahnya, aku juga iri.
Kini lihat diri ini, dan
tertawalah. Aku hanya makhluk intermidiet yang – menyedihkan. Aku punya banyak
teman, tentu saja. Mereka dengan titel teman bukan sesuatu yang sulit untuk
didapatkan. Kelas ini ramai, begitu banyak orang. Dan kami semua teman, teman
satu kelas. Cukup. Jika kutinjau lebih luas lagi, sekolah ini juga jauh lebih
ramai, sangat banyak orang. Dan kami juga teman, sebatas teman satu sekolah
sayang.
Matahari
tepat di ubun-ubun saat kuputuskan untuk melangkahkan kaki meninggalkan area
sekolah. Seperti biasa, aku ditemani bayang-banyang. Mengayunkan tangan bersama
angin-angin nakal yang setia menerpa. Hari ini panas, sangat. Saat langkahku
terhenti di halte, menunggu angkutan umum. Tak sengaja telingaku mencuri dengar
percakapan mereka.
“Nanti malam pergi
gak? Gue ada urusan nih.”
“Yoi, Bro. Gue
mana pernah absen lagi. Eh? Lo gak datang?”
“Susah sih. Ortu
gue banyak pantangan belakangan ini.”
“Ahaha. Anak mami
lo! Cowok bukan sih?”
“Bukannya gitu
juga. Tapi gitulah.”
“Ya, udah. Ntar
gue jemput deh. Gue bantuin bujuk ortu lo. Gampang..”
“Ehehe.. lo emang
paling ngerti. Thanks Bro!”
Perlahan percakapan itu hilang
dibawa angin, kembali meninggalkanku sendiri bersama sepi. Aku tersenyum masam,
mereka bagian dari gerombolan para
tetua. Ya, walau sudah level bawahnya. Bukannya aku ingin sombong atau sok
tahu. Namun sudah jadi rahasia umum kalau gerombolan tetua terdiri dari
kasta-kasta. Semacam ruang-ruang dalam satu istana besar.
Sudah setengah jam aku duduk di
sini, sedang yang kutunggu tak kunjung menampakkan diri. Malang sedang sayang
kepadaku. Sepertinya angkutan umum jurusan pulangku akan lama. Tidak mujur. Aku
berdiri. Lebih baik aku angsur jalan saja. Walau lelah, namun menunggu di sana
jauh lebih melelahkan. Saat tapak kakiku masih malas melawan grafitasi, kembali
sayup-sayup kudengar percakapan. Menggelikan, kali ini persemakmuran cupu.
Mungkin aku sedang jodoh dengan dua kubu bertolak belakang ini.
“Kamu udah punya game ..... yang terbaru gak?”, samar-samar memasuki daun
telingaku.
“Udah ada ya? Aku belum tahu.”
Sepertinya percakapan itu masih
berlanjut hingga ujung perjalan mereka, aku tidak tahu. Sebenarnya aku tidak
terlalu peduli juga. Bukannya ingin sok penting, hanya saja percakapan mereka
memang tidak penting. Setidaknya bagiku. Mungkin aku hanya makhluk intermediet
yang – menyedihkan. Cuma ya.. begitu. Pembahasan mereka membosankan.
Kembali aku menapaki jalan yang
terbentang kian panjang. Masih belum menemukan angkutan dengan jurusan yang
sesuai. Aku benar-benar sedang malang. Kulirik langit yang tadinya biru di atas
sana. Sepertinya mereka sedang tertawa kepadaku. Perlahan biru berganti
abu-abu. Oh, sungguh hari yang bahagia.
Entah apa salahku, kini hujan turun dengan riangnya membasahi seragamku.
Terpaksa aku berlari sebab refleks diri yang tak ingin basah kuyup. Kembali ke
halte.
Di sampingku berselang 2 meter
kurasa. Mereka tengah duduk, berdua, terlalu dempet, dan sama sekali tidak
peduli dengan keberadaanku. Mungkin memang nasipku untuk jadi pencuri hari ini,
pencuri dengar percakapan mereka. Bukan inginku memang, tapi aku bosan. Mau tak
mau masuk juga percakapan mereka ke daun telingaku. Terus merambat sebagai
impuls menuju dendrit ke ujung akson hingga bermuara di atas sana, otakku.
Percakapan mereka ringan saja,
cuma percakapan sepasang muda-mudi yang bahagia. Bukan urusanku, sayang aku
kembali iri. Kusadari betapa menyedihkannya diri ini. Hujan, tanpa teman, dan
tak bisa pulang. Ahaha, tertawalah. Aku sendiri sedang menertawakan diri ini.
Aku, sibuk mengoceh tentang dia, mereka, semua yang masuk ke lensa mataku.
Mengomentarinya, seolah diri ini begitu sempurna. Aku lupa, aku melupakan
diriku sendiri. Mungkin sengaja tidak sengaja, entahlah. Hanya satu yang kutahu
dengan pasti. Aku, Haikal Pramana, seorang makhluk intermediet yang tengah
sendiri bersama hujan, tidak bisa pulang, tidak punya teman. Ya, teman. Hanya
teman.