Thursday, June 6, 2013

Teman


Teman
Kelas ini bising, mereka berkeliaran seperti semut-semut pekerja. Begitu riuh, begitu ramai. Di sudut sana tertangkap oleh sudut mataku gerombolan para tetua, begitu kami menyebutnya. Hanya sekelompok anak manusia sebenarnya. Terdiri dari mereka-mereka yang punya nama tersehor, bajet berlimpah dan pencapaian nilai yang mudah. Sungguh, jika boleh jujur, aku iri.
Kuayun lagi pandangan mataku. Kali ini potret persemakmuran cupu. Mereka sibuk, terlalu sibuk dengan dunia mereka. Di depan mereka ada layar lebar yang setia menemani, semacam pacar sepanjang waktu. Terkesan, bukan. Mereka memang tidak peduli dengan dunia luar. Mereka terlalu bahagia dengan dunia mereka sendiri. Dan parahnya, aku juga iri.
Kini lihat diri ini, dan tertawalah. Aku hanya makhluk intermidiet yang – menyedihkan. Aku punya banyak teman, tentu saja. Mereka dengan titel teman bukan sesuatu yang sulit untuk didapatkan. Kelas ini ramai, begitu banyak orang. Dan kami semua teman, teman satu kelas. Cukup. Jika kutinjau lebih luas lagi, sekolah ini juga jauh lebih ramai, sangat banyak orang. Dan kami juga teman, sebatas teman satu sekolah sayang.
                Matahari tepat di ubun-ubun saat kuputuskan untuk melangkahkan kaki meninggalkan area sekolah. Seperti biasa, aku ditemani bayang-banyang. Mengayunkan tangan bersama angin-angin nakal yang setia menerpa. Hari ini panas, sangat. Saat langkahku terhenti di halte, menunggu angkutan umum. Tak sengaja telingaku mencuri dengar percakapan mereka.
                “Nanti malam pergi gak? Gue ada urusan nih.”
                “Yoi, Bro. Gue mana pernah absen lagi. Eh? Lo gak datang?”
                “Susah sih. Ortu gue banyak pantangan belakangan ini.”
                “Ahaha. Anak mami lo! Cowok bukan sih?”
                “Bukannya gitu juga. Tapi gitulah.”
                “Ya, udah. Ntar gue jemput deh. Gue bantuin bujuk ortu lo. Gampang..”
                “Ehehe.. lo emang paling ngerti. Thanks Bro!”

                Perlahan percakapan itu hilang dibawa angin, kembali meninggalkanku sendiri bersama sepi. Aku tersenyum masam, mereka bagian dari  gerombolan para tetua. Ya, walau sudah level bawahnya. Bukannya aku ingin sombong atau sok tahu. Namun sudah jadi rahasia umum kalau gerombolan tetua terdiri dari kasta-kasta. Semacam ruang-ruang dalam satu istana besar.

                Sudah setengah jam aku duduk di sini, sedang yang kutunggu tak kunjung menampakkan diri. Malang sedang sayang kepadaku. Sepertinya angkutan umum jurusan pulangku akan lama. Tidak mujur. Aku berdiri. Lebih baik aku angsur jalan saja. Walau lelah, namun menunggu di sana jauh lebih melelahkan. Saat tapak kakiku masih malas melawan grafitasi, kembali sayup-sayup kudengar percakapan. Menggelikan, kali ini persemakmuran cupu. Mungkin aku sedang jodoh dengan dua kubu bertolak belakang ini.

                “Kamu udah punya game .....  yang terbaru gak?”, samar-samar memasuki daun telingaku.
                “Udah ada ya? Aku belum tahu.”

                Sepertinya percakapan itu masih berlanjut hingga ujung perjalan mereka, aku tidak tahu. Sebenarnya aku tidak terlalu peduli juga. Bukannya ingin sok penting, hanya saja percakapan mereka memang tidak penting. Setidaknya bagiku. Mungkin aku hanya makhluk intermediet yang – menyedihkan. Cuma ya.. begitu. Pembahasan mereka membosankan.

                Kembali aku menapaki jalan yang terbentang kian panjang. Masih belum menemukan angkutan dengan jurusan yang sesuai. Aku benar-benar sedang malang. Kulirik langit yang tadinya biru di atas sana. Sepertinya mereka sedang tertawa kepadaku. Perlahan biru berganti abu-abu. Oh, sungguh hari yang bahagia.  Entah apa salahku, kini hujan turun dengan riangnya membasahi seragamku. Terpaksa aku berlari sebab refleks diri yang tak ingin basah kuyup. Kembali ke halte.

                Di sampingku berselang 2 meter kurasa. Mereka tengah duduk, berdua, terlalu dempet, dan sama sekali tidak peduli dengan keberadaanku. Mungkin memang nasipku untuk jadi pencuri hari ini, pencuri dengar percakapan mereka. Bukan inginku memang, tapi aku bosan. Mau tak mau masuk juga percakapan mereka ke daun telingaku. Terus merambat sebagai impuls menuju dendrit ke ujung akson hingga bermuara di atas sana, otakku.

                Percakapan mereka ringan saja, cuma percakapan sepasang muda-mudi yang bahagia. Bukan urusanku, sayang aku kembali iri. Kusadari betapa menyedihkannya diri ini. Hujan, tanpa teman, dan tak bisa pulang. Ahaha, tertawalah. Aku sendiri sedang menertawakan diri ini. Aku, sibuk mengoceh tentang dia, mereka, semua yang masuk ke lensa mataku. Mengomentarinya, seolah diri ini begitu sempurna. Aku lupa, aku melupakan diriku sendiri. Mungkin sengaja tidak sengaja, entahlah. Hanya satu yang kutahu dengan pasti. Aku, Haikal Pramana, seorang makhluk intermediet yang tengah sendiri bersama hujan, tidak bisa pulang, tidak punya teman. Ya, teman. Hanya teman.

No comments:

Post a Comment