Tuesday, November 27, 2012

CINTA 2

Andai aku ini penerjemah yang baik, aku pasti dapat dengan mudah mengetahui apa maksud dari setiap gerak-gerik, tindak tandukmu. Mencegahku untuk kepedean. Mencegahku terlanjur berfikir macam-macam. Mencegah halusinasiku berkembang terlau jauh. Maaf, sungguh aku tak bermaksud untuk menyalahkan setiap respon yang kau beri kepadaku. Justru aku akan sangat berterimakasih saat kamu masih menyempatkan diri untuk sekedar merespon tingkah gilaku yang senantiasa mengagumimu. Di sini, akulah satu-satunya terdakwa, biang dari semua peristiwa yang memusingkan kepala. Ya, kepala diriku sendiri. Lalu perlahan merembet ke hatiku sendiri hingga berakhir di setiap titik pada tubuh ringkih ini.
Di tengah galau nan masih menggulung, aku mencoba mengurai rasa yang tak kunjung reda. Mungkin sedikit usaha untuk mencegah dilema kembali merajarela. Jujur saja, aku tak terlalu kuasa untuk menyalahkan diri. Walau kutahu dan kusadari kesalahan ini. Aku akan jauh lebih lega jika masih ada cinta. Ya, bukan rasa yang senantiasa masih kepelihara. Tapi sekedar tempat untukku menumpahkan kecewa, kecewa akan kenyataan yang ada.

Dan tak jarang kudengar bahwa egois adalah sifat dasar setiap manusia. Tapi baru kali ini dapat kumengerti bahwa ego akan tumbuh sedikit lebih pesat saat seorang insan tengah jatuh cinta. Kukutip dari sebuah cerita yang baru kudengar beberapa hari lalu. Tentang dia seorang pria yang begitu menginginkan sebuah nama menjadi miliknya. Sayang dia lupa, nama itu bukan saja punya raga tapi juga rasa. Hingga akhirnya kisah mereka berakhir dengan duka, menyisakan sedih dan kecewa. Jujur saja aku ingin tertawa. Ingin mendakwai sang pria yang dalam lensa kacamataku terlihat begitu dungu. Dia hanya mengedepankan rasanya, lalu dengan sengaja mengesampingkan rasa si wanita. Aku tahu 9 dari sepuluh yang dimilki pria adalah logika. Sayang, aku tak ingin mengerti tentang itu. Aku malah lebih cendrung untuk menuntut sedikitnya mereka harus punya 3 dari sepuluh yang ada. Kenapa? Itu saja masih kurang bagi mereka untuk dapat mengerti rasa, untuk sedikit berhenti mengedepankan logika. Tidak, tak harus seutuhnya. sedikit saja agar dapat tercipta keseimbangan, Ya, selalu sesuatu di dalam tanda kutip.

Sunday, November 25, 2012

CINTA

Apa itu cinta?
Apa cinta didefinisikan dengan fikiran? Atau lewat perasaan?
Apa definisi cinta oleh fikiran? Dan apa definisi cinta oleh perasaan?

Cinta satu :
Wajahnya yang senatiasa merona, senyumnya yang merekah, matanya yang berkilau, hidungnya yang mungil, semua mempesona. Semua mengalihkan duniaku hanya untuknya. Aku tak kunjung mampu menepis bayangnya. Waktu ke waktu yang bergulir di sampingku hanya tentang dirinya. Memandangnya, memperhatikannya, mencuri dengar suaranya, semua jelas membuatku gila.
Sayang, aku terlalu pengecut untuk mengejarnya. Layaknya bidadari, begitu banyak pemujanya. Aku tak ingin, aku harus cukup tahu diri. untuk saat ini, aku senang mencintainya cukup dengan begini.

Cinta dua:
Lama sudah waktu yang kuhabiskan sekedar untuk memujanya. Bukan, bukan karena kepengecutanku. Dari awal aku sudah menyatakan kekagumanku, kesukaanku, kesayanganku, kecintaanku akan dirinya. Aku cuma cukup tahu diri akan responnya. Jujur saja, responnya memang penuh tanda tanya. Tapi cukup bagiku untuk berhipotesa tentang perasaannya yang sebenarnya. Membuatku harus puas, puas karena diizinkan bertahun-tahun terus mengaguminya.

Cinta tiga:
Aku tah tahu bagaimana harus mengartikannya? Apa itu ya, atau tidak? Dia selalu baik padaku. Senantiasa mencurahkan perhatian, tak jarang juga mencemaskan hal-hal kecil tentang diriku. Jelas bukan? Aku begitu percaya diri dia punya perasaan yang sama. Terang saja, lihat sikapnya, perlakuannya. Dan sampailah aku pada akhir ketidaktahudirianku. Terlalu sibuk dengan perlakuannya padaku, aku lupa melihat pada sekeliling. Saat membuka mata, aku tercengang. Bodohnya aku, perlakuan itu diberikannya pada semua. Boleh aku bersedih? Boleh aku meratapi perlakuan adilnya yang menurutku hanya mempermainkan perasaanku itu? Oh, maafkan aku yang terlalu percaya diri. Dan tolong biarkan aku melarikan diri dari panggung ini. Aku tak rela, aku tak mau diperlakukan sama. Sederhana, cuma karena aku punya perasaan yang berbeda dengan mereka yang kamu perlakukan sama.

TBC..

Friday, November 16, 2012

Apa Adanya


Adakah apa adanya sesuatu yang terlepas dari belitan sandiwara?
Adakah apa adanya sesuatu yang bebas dari jerat drama?
Bagaimana jika ini memang panggung sandiwara untuk sebuah drama sederhana berjudul " Apa Adanya" ?

Aku ingin terbang seperti burung dengan sayap apa adanya.
Aku ingin berenang seperti ikan dengan sirip apa adanya.

Ya. aku ingin hidup dengan kehidupan yang apa adanya.
Aku tak senang, tak pandai bersandiwara.
Aku tak berniat, tak lihai bermain drama.
Peliknya, aku menuntut keberadaan apa adanya, bukan ada apanya.

Aku tak senang memandangi topeng-topeng berjalan nan bergumam "HAI"
Aku tak berniat mengenakan wajah-wajah palsu nan mengumbar simpul lebar "SETENGAH LINGKARAN"

Aku menjerit, mencekik, menyumbat jalannya udara.
Aku tak bisa, tak mampu berpura-pura biasa dan menerima.

Aku.
Aku lebih senang mengumbar perang sembari mengangkat pedang.
Berlaga di tengah pertempuran, merasakan dengan jelas tiap tetes darah bukti sakitku.

Aku.
Aku membenci dan menikmati.
Membiarkan waktu menggulirku menuju kerugian selanjutnya.
Kemana-mana tak jelas juntrungannya.

Aku.
Aku mengetahui tidak mengerti.
Aku senang begini.

Ya, ini  ini memang panggung sandiwara untuk sebuah drama sederhana berjudul " Apa Adanya".

Tuesday, November 13, 2012

BUTUH KOMENT

Sumpah mendadak galau lagi. 'Itu' postingan viewernya udah lebih 80, tapi... komentnya baru 8.
T>T
Krisis banget deh. Kalau baca koment donk... Bikin a aja udah deh, gak usah sampe z.
BUTUH KOMENT!
T.T

Galau

Galau itu situasi dimana hati dan pikiran tidak sejalan. Atau bahasa lainnya, setengah tidak waras. Ya, sedikit ekstrim. Namun pasalnya ada satu hal yang mesti diingat, setengah bukan berarti seutuhnya.

Ok, dalam keadaan galau postingan ini terbit. Karena memang tujuan dari postingan ini adalah menghapus atau sedikitnya meringankan kegalauanku. Berusaha agar setengah menjadi seutuhnya, seutuhnya waras.

Seharusnya aku ujian, tapi aku enggan. Akhirnya kutinggalkan tanpa jawaban. Membiarkan besok tetap seperti sekarang dan sekarang tetap seperti kemarin.
Akh, aku ingin bebas tapi tak ingin susah. Rempong ya?
Aku ingin bercerita pada mereka. Mencurahkan semua rasa. Sayang, targetku terlalu sibuk dan aku terlalu menganggur. Hingga berakhirlah aku di sini. Bersama postingan gaje yang tak jelas juntrungannya.
Ya, apa mau dikata? Dadaku sudah benar-benar penuh. Tak mampu lagi menampungnya. Aku tak kuasa menyalahkan mereka, juga dia tentunya, atau mungkin postingan gaje ini.
Cukup salahkan ketidaktersediaan yang mestinya ada. Walau merujuk ke sana, setidaknya bukan dia.
Ya, makin ke bawah maka semakin gaje lah tiap katanya.
Tak apa, sungguh aku tak peduli. Sedikitnya aku cukup puas dan setelah ini bisa tidur pulas.
:)
Terimakasih postingan gajeku.
:*

Friday, November 9, 2012

Memori Setengah Putih Abu-Abu

Banyak kudengar bahwa putih abu-abu adalah masa emas sepanjang usiamu. Jujur saja, hingga detik ini pun aku tak percaya. Putih abu-abu telah kurasakan setidaknya nyaris setengah dari waktu yang seharusnya. Belum ada hal-hal yang bisa diberi label ‘emas’. Semua terkesan biasa saja.
Syukurnya aku punya sedikit harta berharga. Bukan, bukan sesuatu yang dalam tanda kutip berlabel emas. Jelas ini jauh lebih nyata. Kita beri judul ini “Memori Setengah Putih Abu-Abu”.
Hal yang paling membuatku terkesan di awal Memori Setengah Putih Abu-Abu adalah MOPDB atau bahasa dulunya Masa Orientasi Siswa. Delapan hari penindasan paling berkesan sepanjang 15 tahun usiaku kala itu. Awal di mana aku mulai mengenal apa itu putih abu-abu. Ada kesal, muak, lelah, dan berbagai rasa lainnya yang becampur. Sayang, seperti sampiran sebuah pantun sederhana “bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian”, aku puas dengan masa MOPDB yang cuma delapan hari itu.
X.1 atau yang akrab kusebut “Bangsaone” adalah kelas pertamaku di SMAN 1 Landbouw Bukittinggi. Kelas yang sangat menyenangkan. Di sinilah kutemukan seorang gadis yang kuakui seperti bidadari. Ahaha. Kelas yang kompleks, memuat bebagai jenis makhluk dari berbagai asal pula. Kelas yang mengajarkanku akan arti perbedaan dan kebersamaan.
Ekskul KIR “Kelompok Ilmiah Remaja” awal di mana aku mulai mencoba dan terus mencoba. Banyak, terlalu banyak yang kualami. Bersama almarhumah ibu, kakak-kakakku, teman seperjuanganku, masa-masa sulit dan rumit, juga canda tawa yang menyelinginya. Menumbuhkembangkan kesetiaanku akan kelompok kecil tersebut. Rasa cinta yang tak ‘kan hilang selamanya ku kira. Senantiasa terpelihara sebab memang terlalu berharga.
OSIS/MPK #40, keluarga kedua yang luar biasa. Ahaha. Ya, banyak tangis dan tawa sepanjang delapan bulan masanya. Juga pelajaran berharga yang tak ‘kan mungkin kulupa. Masa di forum, masa ulang tahun satu-satunya anggota yang kami rayakan bersama, masa acara-acara, masa makan dan foto bersama. Semua. Manis pahit yang terangkum begitu singkat.
XI IPA 5 atau yang sekarang punya nana “Science O’ Lime”, kelas baru di tingkat dua masa putih abu-abu. Masih banyak tapir yang belum tersingkap dan ada waktu setidaknya dua tahun untuk menyelesaikannya.
Rempong, yang paling berharga dari putih abu-abuku ya mereka.
Pertama, Amak Rempong atau yang lazim dikenal dengan "Resti Safitri Andra". Teman yang baru kukenal satu tahun tiga bulan lalu lewat perkumpulan kami 'Bangsaone'. Menurut kacamataku dia adalah teman yang cantik, putih, tinggi, dan chabby. Pribadinya tertutup, dia pendiam, cengeng, rapuh dan sering sekali buat hati risau. Kenapa? Dia teman yang terlalu baik.
Kedua, Rahma Shintia. Bisa dibilang dia itu 'biang rempong' pencetus kata rempong. Ya, dia yang hobi banget menyebarkan virus rempong diantara kami. Hingga terciptalah rempong sejati beserta rempongers-nya.
Dari kacamataku, 'Tya' begitu sering disapa, adalah pribadi yang kuat sekaligus lemah. Kenapa? Kalau pengen tahu jawabannya kamu harus kenal dia luar dalam. :D
Fisiknya cantik, putih, lumayan tinggi dan yang paling penting 'kurus'.
Ketiga, Nadra Yudelsa Ratu. Dia itu bagian dari 'REMAIN' yang artinya juga bagian dari 'Tya'. Anaknya seperti biasa putih, tinggi dan cantik. Dia itu lola. Ada yang bilang anggun, pantas sama nama akhirnya 'RATU'. Si Nad ini anaknya pintar, ambisius cuma kadang gampang panikan trus nanti stress sendiri. Makanya dia rempong.
Keempat, Nur Indah Lestari. Aku sih lebih senang manggil dia 'Cuin' atau 'Jundai'. Anaknya heboh, sumpah cerewet banget. Dia pintar, easy going, gak neko-neko, apa adanya, pengertian. Dia itu teman aku yang paling awet. Aku udah satu sekolah sama dia dari sebelum kami bisa baca tulis. Sampai sekarang pun masih satu sekolah. Berharap nanti kuliahnya juga bisa satu universitas. :D
Trus, Isnaini Saroh. Temen aku yang paling ngeyel dan pecicilan. Paling senang dipanggil 'Arah'. Dia baik, pengertian, perhatian, cuma gak jarang juga jengkelin dan nyebelin. Dia itu teman aku paling 'cingik' juga. Pintar buat puisi dan suka banget sama warna 'kuning'. Kalo dia jalan, sumpah 'ngejrengg' banget.
Trus, Suci Rahmadhani. Teman sekelas and sebangkuku. Aku lebih suka manggil dia 'Kuchay'. Kalo Arah pintar nulis maka Kuchay pintar baca puisi. Dia itu master of master lah buat baca puisi. Anaknya asyik, nyambung dibawa kemana-mana. Cuma ya kadang kekanakan. Ada aja hal-hal dalam tanda kutip sederhana yang dipermasalahinnya.
Trus, Husnatul Izzati Luthvia. Dia itu hobi loncat-loncat ekskul. Paling suka dipanggil 'Vivi'. Sejak SMA dia jadi mendadak feminim. Dia pintar, hebat debat juga. Lumayan multitalent lah. Sayang, gak ada yang jelas menurutku. Nilai plusnya dia gampang berbaur kapan dan di mana saja.
Trus, 2 sohib yang mendadak rempong.
"Rin Luan Hawari" dan "Elmaghfira Putri Elika".
Kalo Luan, dia itu cantik, putih, manis, imut. Dia juga pintar dan kekanak-kanakan banget. Maklum lah. Luan itu juga teman aku yang paling cengeng sedunia. Belum apa-apa aja dia udah mewek bombay. Rempong banget deh.
Kalo Ghiva, dia itu aneh. :D Dia suka ngeluh tapi gak berani ngomong langsung sama orangnya. Ujung-ujungnya pasti cari pelampiasan. Dia juga kadang panikan, hal gak penting dipusingin. Suaranya... Sumpah bagus banget. Dia itu juara 'SMANSA Idol'. Trus Ghiva juga kadang rada telmi and suka ngomong seenaknya. Dia juga pribadi yang pengertian dan perhatian. Untuk fisik, Ghiva itu cantik, tinggi dan 'agak gendut'.
Terakhir 'Naylatul Fhadilla' gak tau namanya bener apa gak? Soalnya ribet tulisannya. Anaknya gila. Sumpah gila. Lebih gila dari semua. Dia cantik, putih, pintar, baik, pengertian, perhatian, cengeng. Dia sama aja pecicilannya sama Arah. Padahal tu orang dua sama-sama siswa akselerasi. Emang pada stress.
Dila juga baik and enak dibawa cerita. Dia tipe pekerja keras and selalu berpositif thinking. Paling pinter nutupin masalah pribadi.
Yang paling penting dia 'kocak'.
Ya, itulah mereka harta berharga sepanjang “Memori Setengah Putih Abu-Abu”ku.



Tanpa judul


“Jika hidup seperti hukum aksi reaksi, maka cinta seperti hukum kekekalan energi”
               Pagi yang cerah, seperti biasa selalu begitu. Semut-semut senantiasa berjejer, berbaris, dan berjalan. Entah sejak kapan mereka begitu, tak ada yang tahu. Embun pagi dengan setia menyapa daun-daun hijau depan rumah. Mentari siap berlari menuju titik tertinggi. Dan dia, dengan langkah tegas dan senyum simpul memulai harinya.
               Sebut saja Linda, 15 tahun, cerewet, periang, dan cerdas. Apapun dimilikinya. Ayah yang kaya, ibu yang cantik, saudara yang baik, teman yang banyak, pacar yang setia pun ada. Setiap detik hidupnya adalah surga. Tak ada kendala, tak ada problema, hanya suka dan ria yang bertebaran, bermekaran kapan dan di mana saja.
               Jika hidup adalah surga lalu di mana neraka? Adakah dunia kan selalu bahagia? Dengan rembulan dan mentari nan sedia selamanya di sisinya? Dan kisah ini baru akan di mulai di sini. Saat cerah berganti mendung, semut-semut berhamburan menuju lubang, embun berubah jadi butiran, mentari menghilangkan diri, dan dia terduduk lunglai menyembunyikan simpul yang biasa menghiasi wajah putihnya.
               “Apa selama ini aku orang jahat?”
               “Tidak juga.”
“Apa aku terlalu baik?”
“Tidak juga.”
Dia baru saja mengusap ujung mata bulatnya, lagi. Sekian lama berurai air mata membuat hidung bangirnya merah jambu. Ya, lama tak begitu. Bersama teman lama, atau nyaris saja mantan teman yang terlupakan. Dia duduk memagut lutut sembari menenggelamkan kepalanya sekali lagi diantara rongga yang tersisa.
“Sudahlah. Aku bukannya ingin menghakimi. Mungkin hidupmu sedikit terlalu indah selama ini.”
“Kamu salah. Hidupku memang amat sangat terlalu indah. Aku lupa sudah melayang tinggi. Jadi begini ya rasanya jatuh? Ternyata sakit juga,” ujarnya mengangkat kepala lalu menengadah menatap abu-abu di atas sana.

               Teman lama yang nyaris terlupakan itu tertawa keras dan bersemangat, tak henti-henti hingga sepertinya ikut menangis.
“Dulu, aku pernah bilang begini bukan?”
“Apa?”
“Biarkan aku mencintaimu dengan caraku dan tolong benci saja padaku,” ujarnya kembali menengadah menatap abu-abu di atas sana.
“Ya.”
“Aku, selama dua tahun ini. Aku lupa pernah berujar begitu. Aku lupa dengan cara yang seharusnya kujalani untuk mencintaimu. Ahaha. Aku memalukan ya?”
“Tidak juga”
Diam dan hening menyelimuti. Ketidakjelasan perlahan kembali menggulung-gulung. Menjadi kenyamanan tersendiri, rasa yang tak dapat dielak dapat mengakar begitu kuat dengan sendirinya.
To be continued ..