Andai aku ini penerjemah yang baik, aku pasti dapat dengan mudah mengetahui apa maksud dari setiap gerak-gerik, tindak tandukmu. Mencegahku untuk kepedean. Mencegahku terlanjur berfikir macam-macam. Mencegah halusinasiku berkembang terlau jauh. Maaf, sungguh aku tak bermaksud untuk menyalahkan setiap respon yang kau beri kepadaku. Justru aku akan sangat berterimakasih saat kamu masih menyempatkan diri untuk sekedar merespon tingkah gilaku yang senantiasa mengagumimu. Di sini, akulah satu-satunya terdakwa, biang dari semua peristiwa yang memusingkan kepala. Ya, kepala diriku sendiri. Lalu perlahan merembet ke hatiku sendiri hingga berakhir di setiap titik pada tubuh ringkih ini.
Di tengah galau nan masih menggulung, aku mencoba mengurai rasa yang tak kunjung reda. Mungkin sedikit usaha untuk mencegah dilema kembali merajarela. Jujur saja, aku tak terlalu kuasa untuk menyalahkan diri. Walau kutahu dan kusadari kesalahan ini. Aku akan jauh lebih lega jika masih ada cinta. Ya, bukan rasa yang senantiasa masih kepelihara. Tapi sekedar tempat untukku menumpahkan kecewa, kecewa akan kenyataan yang ada.
Dan tak jarang kudengar bahwa egois adalah sifat dasar setiap manusia. Tapi baru kali ini dapat kumengerti bahwa ego akan tumbuh sedikit lebih pesat saat seorang insan tengah jatuh cinta. Kukutip dari sebuah cerita yang baru kudengar beberapa hari lalu. Tentang dia seorang pria yang begitu menginginkan sebuah nama menjadi miliknya. Sayang dia lupa, nama itu bukan saja punya raga tapi juga rasa. Hingga akhirnya kisah mereka berakhir dengan duka, menyisakan sedih dan kecewa. Jujur saja aku ingin tertawa. Ingin mendakwai sang pria yang dalam lensa kacamataku terlihat begitu dungu. Dia hanya mengedepankan rasanya, lalu dengan sengaja mengesampingkan rasa si wanita. Aku tahu 9 dari sepuluh yang dimilki pria adalah logika. Sayang, aku tak ingin mengerti tentang itu. Aku malah lebih cendrung untuk menuntut sedikitnya mereka harus punya 3 dari sepuluh yang ada. Kenapa? Itu saja masih kurang bagi mereka untuk dapat mengerti rasa, untuk sedikit berhenti mengedepankan logika. Tidak, tak harus seutuhnya. sedikit saja agar dapat tercipta keseimbangan, Ya, selalu sesuatu di dalam tanda kutip.
No comments:
Post a Comment