“Jika hidup seperti hukum aksi reaksi, maka cinta seperti
hukum kekekalan energi”
Pagi yang
cerah, seperti biasa selalu begitu. Semut-semut senantiasa berjejer, berbaris,
dan berjalan. Entah sejak kapan mereka begitu, tak ada yang tahu. Embun pagi
dengan setia menyapa daun-daun hijau depan rumah. Mentari siap berlari menuju
titik tertinggi. Dan dia, dengan langkah tegas dan senyum simpul memulai
harinya.
Sebut saja
Linda, 15 tahun, cerewet, periang, dan cerdas. Apapun dimilikinya. Ayah yang
kaya, ibu yang cantik, saudara yang baik, teman yang banyak, pacar yang setia
pun ada. Setiap detik hidupnya adalah surga. Tak ada kendala, tak ada problema,
hanya suka dan ria yang bertebaran, bermekaran kapan dan di mana saja.
Jika hidup
adalah surga lalu di mana neraka? Adakah dunia kan selalu bahagia? Dengan rembulan
dan mentari nan sedia selamanya di sisinya? Dan kisah ini baru akan di mulai di
sini. Saat cerah berganti mendung, semut-semut berhamburan menuju lubang, embun
berubah jadi butiran, mentari menghilangkan diri, dan dia terduduk lunglai
menyembunyikan simpul yang biasa menghiasi wajah putihnya.
“Apa
selama ini aku orang jahat?”
“Tidak
juga.”
“Apa aku terlalu baik?”
“Tidak juga.”
Dia baru saja mengusap ujung
mata bulatnya, lagi. Sekian lama berurai air mata membuat hidung bangirnya
merah jambu. Ya, lama tak begitu. Bersama teman lama, atau nyaris saja mantan
teman yang terlupakan. Dia duduk memagut lutut sembari menenggelamkan kepalanya
sekali lagi diantara rongga yang tersisa.
“Sudahlah. Aku bukannya ingin
menghakimi. Mungkin hidupmu sedikit terlalu indah selama ini.”
“Kamu salah. Hidupku memang amat
sangat terlalu indah. Aku lupa sudah melayang tinggi. Jadi begini ya rasanya
jatuh? Ternyata sakit juga,” ujarnya mengangkat kepala lalu menengadah menatap
abu-abu di atas sana.
Teman lama yang nyaris
terlupakan itu tertawa keras dan bersemangat, tak henti-henti hingga sepertinya
ikut menangis.
“Dulu, aku pernah bilang begini
bukan?”
“Apa?”
“Biarkan aku mencintaimu dengan caraku
dan tolong benci saja padaku,” ujarnya kembali menengadah menatap abu-abu di
atas sana.
“Ya.”
“Aku, selama dua tahun ini. Aku lupa
pernah berujar begitu. Aku lupa dengan cara yang seharusnya kujalani untuk
mencintaimu. Ahaha. Aku memalukan ya?”
“Tidak juga”
Diam dan hening menyelimuti. Ketidakjelasan
perlahan kembali menggulung-gulung. Menjadi kenyamanan tersendiri, rasa yang
tak dapat dielak dapat mengakar begitu kuat dengan sendirinya.
To be continued ..
No comments:
Post a Comment