Friday, November 9, 2012

Tanpa judul


“Jika hidup seperti hukum aksi reaksi, maka cinta seperti hukum kekekalan energi”
               Pagi yang cerah, seperti biasa selalu begitu. Semut-semut senantiasa berjejer, berbaris, dan berjalan. Entah sejak kapan mereka begitu, tak ada yang tahu. Embun pagi dengan setia menyapa daun-daun hijau depan rumah. Mentari siap berlari menuju titik tertinggi. Dan dia, dengan langkah tegas dan senyum simpul memulai harinya.
               Sebut saja Linda, 15 tahun, cerewet, periang, dan cerdas. Apapun dimilikinya. Ayah yang kaya, ibu yang cantik, saudara yang baik, teman yang banyak, pacar yang setia pun ada. Setiap detik hidupnya adalah surga. Tak ada kendala, tak ada problema, hanya suka dan ria yang bertebaran, bermekaran kapan dan di mana saja.
               Jika hidup adalah surga lalu di mana neraka? Adakah dunia kan selalu bahagia? Dengan rembulan dan mentari nan sedia selamanya di sisinya? Dan kisah ini baru akan di mulai di sini. Saat cerah berganti mendung, semut-semut berhamburan menuju lubang, embun berubah jadi butiran, mentari menghilangkan diri, dan dia terduduk lunglai menyembunyikan simpul yang biasa menghiasi wajah putihnya.
               “Apa selama ini aku orang jahat?”
               “Tidak juga.”
“Apa aku terlalu baik?”
“Tidak juga.”
Dia baru saja mengusap ujung mata bulatnya, lagi. Sekian lama berurai air mata membuat hidung bangirnya merah jambu. Ya, lama tak begitu. Bersama teman lama, atau nyaris saja mantan teman yang terlupakan. Dia duduk memagut lutut sembari menenggelamkan kepalanya sekali lagi diantara rongga yang tersisa.
“Sudahlah. Aku bukannya ingin menghakimi. Mungkin hidupmu sedikit terlalu indah selama ini.”
“Kamu salah. Hidupku memang amat sangat terlalu indah. Aku lupa sudah melayang tinggi. Jadi begini ya rasanya jatuh? Ternyata sakit juga,” ujarnya mengangkat kepala lalu menengadah menatap abu-abu di atas sana.

               Teman lama yang nyaris terlupakan itu tertawa keras dan bersemangat, tak henti-henti hingga sepertinya ikut menangis.
“Dulu, aku pernah bilang begini bukan?”
“Apa?”
“Biarkan aku mencintaimu dengan caraku dan tolong benci saja padaku,” ujarnya kembali menengadah menatap abu-abu di atas sana.
“Ya.”
“Aku, selama dua tahun ini. Aku lupa pernah berujar begitu. Aku lupa dengan cara yang seharusnya kujalani untuk mencintaimu. Ahaha. Aku memalukan ya?”
“Tidak juga”
Diam dan hening menyelimuti. Ketidakjelasan perlahan kembali menggulung-gulung. Menjadi kenyamanan tersendiri, rasa yang tak dapat dielak dapat mengakar begitu kuat dengan sendirinya.
To be continued ..

No comments:

Post a Comment