Anggap saja ini teman curhatku yang senantiasa untuk diam, menerima, tak mendakwa... ^^
Saturday, July 27, 2013
Cinta
Begitu rumit dan sulit. Saat mencintai namun tak dicntai atau saat dicintai namun tak mencintai.
Mimpi
Sebentar kemarin ia bahagia dengan dunianya. Seperti sudah lengkap semua, tanpa cela. Dan hari ini, kala pagi menyapa. Seolah semua melayang, hilang. Mungkin segala sempurna milik kemarin hanya mimpi semalam. Sisa-sisanya tinggal kenangan manis tanpa bukti apa-apa. Dalam resah gelisah, kecewa memuncak. Hendak menuntut realita, sesuatu layaknya penuh rasa dan makna. Sayang, hari terus berganti mengikis asa-asa lama. Mulai tertawa sebab berhasil mengganti kisah dengan akhir behagia menjadi mimpi usang tak berujung nyata. Mimpi terbukti nyata, asa ditepis realita.
Wednesday, July 24, 2013
Enough
Mungkin pura-pura jadi orang lain bagus juga. Siapa tahu
suatu saat nanti bernasip mujur dan allakazam, gue jadi artis. Haha.. bullshit!
Udahlah, hal paling urgent saat ini adalah mood gue. Semua juga tau mungkin
yaa... yang namanya mood bener-bener hal paling nyesek sedunia. Bikin frustasi.
Kacau, udah mimpi tinggi-tinggi, eh, kenyataannya malah
kosong. Kasian banget. Tapi apa mau dikata, apa mau didaya. Bak itulah suratan
takdirnya, gak ada yang bisa ngubah meski pengen pake banget sekalipun.
Kadang kita mesti tahu diri, pengen aja gak cukup dalam
hidup. Sedang udah usaha hancur-hancuran aja masih antara yes or no. Gimana gak
ngapa-ngapain. Nihil banget!
Saturday, July 13, 2013
Mencari Arti Sebuah Kata
Lama aku berjalan, diantara sunyinya malam juga bisingnya siang.
Bukan hitungan jari hari yang kugandrungi bersama sepi. Bukan deret satu dua angka masa yang kutekuni diiringi bunyi.
Aku banyak mengamat, menilik. Mencoba menerka-nerka apa makna yang sebenarnya. Meski begitu, aku masih terlalu bodoh untuk mengerti. Betapa menyedihkan bukan?
Bukan hitungan jari hari yang kugandrungi bersama sepi. Bukan deret satu dua angka masa yang kutekuni diiringi bunyi.
Aku banyak mengamat, menilik. Mencoba menerka-nerka apa makna yang sebenarnya. Meski begitu, aku masih terlalu bodoh untuk mengerti. Betapa menyedihkan bukan?
Friday, June 7, 2013
Sahabat
Satu kata
penuh makna
Memayungi
segala kisah diantara kita
Suka dan
duka
Ria dan lara
Sahabat..
Satu makna
dalam hati
Terpatri
dengan abadi
Sahabat..
Warna dalam
hari
Terlukis bersama
diri
Sahabat..
Seperti
angin penyejuk
Laksana awan
pelindung
Tak kenal
upah
Tak pandang
harga
Setia
selamanya
Thursday, June 6, 2013
Teman
Teman
Kelas ini bising, mereka
berkeliaran seperti semut-semut pekerja. Begitu riuh, begitu ramai. Di sudut
sana tertangkap oleh sudut mataku gerombolan para tetua, begitu kami
menyebutnya. Hanya sekelompok anak manusia sebenarnya. Terdiri dari mereka-mereka
yang punya nama tersehor, bajet berlimpah dan pencapaian nilai yang mudah.
Sungguh, jika boleh jujur, aku iri.
Kuayun lagi pandangan mataku.
Kali ini potret persemakmuran cupu. Mereka sibuk, terlalu sibuk dengan dunia
mereka. Di depan mereka ada layar lebar yang setia menemani, semacam pacar
sepanjang waktu. Terkesan, bukan. Mereka memang tidak peduli dengan dunia luar.
Mereka terlalu bahagia dengan dunia mereka sendiri. Dan parahnya, aku juga iri.
Kini lihat diri ini, dan
tertawalah. Aku hanya makhluk intermidiet yang – menyedihkan. Aku punya banyak
teman, tentu saja. Mereka dengan titel teman bukan sesuatu yang sulit untuk
didapatkan. Kelas ini ramai, begitu banyak orang. Dan kami semua teman, teman
satu kelas. Cukup. Jika kutinjau lebih luas lagi, sekolah ini juga jauh lebih
ramai, sangat banyak orang. Dan kami juga teman, sebatas teman satu sekolah
sayang.
Matahari
tepat di ubun-ubun saat kuputuskan untuk melangkahkan kaki meninggalkan area
sekolah. Seperti biasa, aku ditemani bayang-banyang. Mengayunkan tangan bersama
angin-angin nakal yang setia menerpa. Hari ini panas, sangat. Saat langkahku
terhenti di halte, menunggu angkutan umum. Tak sengaja telingaku mencuri dengar
percakapan mereka.
“Nanti malam pergi
gak? Gue ada urusan nih.”
“Yoi, Bro. Gue
mana pernah absen lagi. Eh? Lo gak datang?”
“Susah sih. Ortu
gue banyak pantangan belakangan ini.”
“Ahaha. Anak mami
lo! Cowok bukan sih?”
“Bukannya gitu
juga. Tapi gitulah.”
“Ya, udah. Ntar
gue jemput deh. Gue bantuin bujuk ortu lo. Gampang..”
“Ehehe.. lo emang
paling ngerti. Thanks Bro!”
Perlahan percakapan itu hilang
dibawa angin, kembali meninggalkanku sendiri bersama sepi. Aku tersenyum masam,
mereka bagian dari gerombolan para
tetua. Ya, walau sudah level bawahnya. Bukannya aku ingin sombong atau sok
tahu. Namun sudah jadi rahasia umum kalau gerombolan tetua terdiri dari
kasta-kasta. Semacam ruang-ruang dalam satu istana besar.
Sudah setengah jam aku duduk di
sini, sedang yang kutunggu tak kunjung menampakkan diri. Malang sedang sayang
kepadaku. Sepertinya angkutan umum jurusan pulangku akan lama. Tidak mujur. Aku
berdiri. Lebih baik aku angsur jalan saja. Walau lelah, namun menunggu di sana
jauh lebih melelahkan. Saat tapak kakiku masih malas melawan grafitasi, kembali
sayup-sayup kudengar percakapan. Menggelikan, kali ini persemakmuran cupu.
Mungkin aku sedang jodoh dengan dua kubu bertolak belakang ini.
“Kamu udah punya game ..... yang terbaru gak?”, samar-samar memasuki daun
telingaku.
“Udah ada ya? Aku belum tahu.”
Sepertinya percakapan itu masih
berlanjut hingga ujung perjalan mereka, aku tidak tahu. Sebenarnya aku tidak
terlalu peduli juga. Bukannya ingin sok penting, hanya saja percakapan mereka
memang tidak penting. Setidaknya bagiku. Mungkin aku hanya makhluk intermediet
yang – menyedihkan. Cuma ya.. begitu. Pembahasan mereka membosankan.
Kembali aku menapaki jalan yang
terbentang kian panjang. Masih belum menemukan angkutan dengan jurusan yang
sesuai. Aku benar-benar sedang malang. Kulirik langit yang tadinya biru di atas
sana. Sepertinya mereka sedang tertawa kepadaku. Perlahan biru berganti
abu-abu. Oh, sungguh hari yang bahagia.
Entah apa salahku, kini hujan turun dengan riangnya membasahi seragamku.
Terpaksa aku berlari sebab refleks diri yang tak ingin basah kuyup. Kembali ke
halte.
Di sampingku berselang 2 meter
kurasa. Mereka tengah duduk, berdua, terlalu dempet, dan sama sekali tidak
peduli dengan keberadaanku. Mungkin memang nasipku untuk jadi pencuri hari ini,
pencuri dengar percakapan mereka. Bukan inginku memang, tapi aku bosan. Mau tak
mau masuk juga percakapan mereka ke daun telingaku. Terus merambat sebagai
impuls menuju dendrit ke ujung akson hingga bermuara di atas sana, otakku.
Percakapan mereka ringan saja,
cuma percakapan sepasang muda-mudi yang bahagia. Bukan urusanku, sayang aku
kembali iri. Kusadari betapa menyedihkannya diri ini. Hujan, tanpa teman, dan
tak bisa pulang. Ahaha, tertawalah. Aku sendiri sedang menertawakan diri ini.
Aku, sibuk mengoceh tentang dia, mereka, semua yang masuk ke lensa mataku.
Mengomentarinya, seolah diri ini begitu sempurna. Aku lupa, aku melupakan
diriku sendiri. Mungkin sengaja tidak sengaja, entahlah. Hanya satu yang kutahu
dengan pasti. Aku, Haikal Pramana, seorang makhluk intermediet yang tengah
sendiri bersama hujan, tidak bisa pulang, tidak punya teman. Ya, teman. Hanya
teman.
Wednesday, May 8, 2013
The Freak One
Jika hidup adalah pilihan maka pilihan hidupnya adalah
menjadi orang yang sempurna. Bukan karena ia ingin muluk atau tidak tahu diri,
namun terkadang kita memang tak butuh alasan yang jelas untuk sebuah pilhan
dalam hidup.
Suasana pagi yang selalu sepi, tenang tanpa kegaduhan yang
menyiksa. Itulah yang senantiasa menjadi penantiannya setiap hari. Walau bukan
moment yang lama, hanya beberapa menit saja, sayang terlalu berharga. Harmoni
alami yang disenandungkan alam, menemaninya mengarungi sepi. Ya, selalu begitu
hingga cerita ini akhirnya dimulai.
“Selamat pagi dunia, kau tahu hidup ini terlalu pahit jika tak ada
pagi. Matahari adalah awal dari kebahagiaan hingga berlanjut pada berbagai
macam rasa yang mewarnai dunia. Selalu begitu, kau tahu? Sampai....” suara
hatinya kala itu.
“Eh, kamu udah datang. Kok malah kamu sih yang datang pagi-pagi
begini?” ujar salah satu temannya pagi itu.
“Heh! Aku juga mau ngomong hal yang sama lho..” jawabnya.
“Oh ya? Ya udah, pulang aja sana.”
“Kenapa gak kamu aja yang pulang? The freak one!”
“The freak one? Siapa sih yang freak sebenarnya?”
“Kamu!” ujarnya lagi sembari berlalu tak acuh.
Jika selama
ini pagi adalah awal yang bahagia, senandung alam yang alami kaya bersamanya, maka
dimulai dari percakapan itulah pagi kehilangan awal bahagianya, kehilangan
senandung alam alami yang biasa mengirinya.
“Baday! Haruskah pagi menjadi buruk karena kehadirannya?
Menyebalkan! Kenapa juga takdir mempersatukan kami di kelas yang sama? Aaakh!”
***
Seperti biasa, ia tengah berjalan seorang diri mengarungi
lautan manusia. Meski suasana sekitar ramai oleh hiruk pikuk yang mewarnainya,
namun baginya tidak. Aura sepi senantiasa menemani tiap langkah yang terayun.
Pasalnya, ia sedang dongkol. Entah sudah berapa pagi yang dilaluinya bersama
‘teman’ barunya itu. ‘The freak one’ begitu ia menyebut ‘teman’ baru yang setia
merusak pagi indah yang selama ini selalu menemaninya. Ya, dia memang selalu
begitu. Hidupnya adalah dia dan hanya dia. Hal paling penting di dunianya
hanyalah dirinya. Kenyamanan paling tinggi adalah kesendirian yang memagut
diri. Bukan, bukan sebab ia membenci orang lain selain dirinya. Dia hanya tidak
peduli siapa-siapa kecuali dirinya. Hingga beberapa waktu lalu selalu begitu,
sampai dimulailah cerita ini.
“Pohon, mungkin aku ini orang gila. Tapi.. ya, aku memang
tak punya tempat untuk menyalurkan keluh kesahku. Bukannya aku menjadikanmu
pelampiasanku, hanya saja aku sudah mulai frustasi dengan situasi ini. Dengar,
aku baru saja menduduki kelas baruku. Dan di kelas baru itu jugalah aku
kehilangan pagi indahku,” ujarnya di bawah pohon rindang belakang sekolah.
“Aku membencinya. Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku
begitu membenci seseorang. Selama ini semua orang yang terlibat dalam hidupku
sama sekali tak membekaskan apa-apa pada hatiku. Mereka hanya datang dan pergi
silih berganti tanpa sisa. Aku bahkan tak dapat mengingat dengan jelas, sekedar
hal-hal umum tentang mereka. Jelas, sebab selama ini aku hanya peduli dengan apa-apa yang kuanggap
penting,” ocehnya lagi masih di tempat yang sama.
“Tidak pohon, jika kau masih mendengarkan. Aku sama sekali
tak ingin disebut makhluk individualisme. Ya, meski keberadaanku memang
cendrung sendiri. Aku akan merasa hangat saat pagi menjelang. Perlahan kujalani
hari yang damai, mengikuti alur yang ada. Begitu saja, begitu cukup. Namun
sekarang itu semua berubah hanya karena satu objek. Kau tahu? Keberadaannya
begitu menyiksaku. Merusak pagiku yang hangat, menghancurkan sepiku yang
tentram. ‘The freak one’ dia benalu,” lanjutnya masih menyalurkan keluh kesah
pada sang pohon.
Dia masih sibuk, belum cukup puas. Entah didengar atau
tidak, dia memang tidak akan peduli. Begitu, begitu juga pada orang-orang
sekitar yang mulai mencemooh dan menaruh keraguan akan kewarasannya. Tidak
peduli, juga pada seorang ‘teman’ yang ternyata tanpa sengaja mencuri dengar
ritual penyaluran keluh kesahnya di siang yang terik itu.
Senyum simpul menghiasi wajah ‘teman’ tersebut. Mungkin mestinya
bukan itu ekspresi yang pas yang harus diperlihatkannya. Hanya saja sedikitnya
dua ujung bibirnya memang tergelitik untuk mencipta garis lengkung di sana.
Perlahan dia tertawa.
“Orang aneh ya? Aku baru sadar kalau aku seaneh itu di
matamu,” ujarnya sembari berlalu, mengakhiri kegiatan mencuri dengarnya di
siang yang terik itu.
***
Jika seminggu belakangan paginya rusak oleh seorang ’teman’
baru, maka dua hari ini paginya kembali pulang menjadi pagi yang hangat dan
tenang. Semua kembali, senandung alam yang alami kembali bersemi. Sepi kembali
memagut menemani hari. Kesempurnaan yang sempat hilang kini dikembalikan. Ya,
awalnya memang begitu. Seolah inilah hal paling dinanti dalam kesengsaraannya.
Sayang, perlahan ia merasa kosong. Paginya, senandung alaminya, sepinya yang
tentram, semua terasa bukan apa-apa lagi. Untuk pertama kali dalam hidupnya,
dunianya dialihkan. Untuk pertama kali, ia beralih dari dirinya sendiri. Untuk pertama
kali, ada hal yang mencuri perhatiannya selain apa-apa yang selama ini
dianggapnya penting. ‘Teman’ baru itu, ia yang selama seminggu belakangan
menjadi benalu, pengganggu, perusak, dialah pencuri perhatinnya untuk pertama
kalinya.
Dan kekosongan lagi kehampaan itu dicoba ditepis dengan
berusaha menikmati sakitnya. Berusaha kembali ke jalur awal. Kembali memagut
sepi yang tentram. Melupakan kenyataan bahwa perhatiaannya telah dicuri seorang
pencuri ulung. Tidak, tidak mampu tentu. Ia terlanjur kehilangan satu-satunya
perhatian terpenting dalam hidupnya. Sudah teralih, mesti dialihkan. Walau
tanpa sadar sekalipun, ia mulai memperhatikan pencuri ulung itu. Mulai
melupakan pagi yang menyeret keterlibatan hidupnya pada sang pencuri.
“Ne, udah buat PR?” tanya seorang teman.
“Ha? Kamu ngomong sama aku?” jawabnya kikuk.
“Ya, ‘the freak one’,” jawabnya sembari memamerkan barisan
gigi putih.
“Ahaha. Maaf, nama kamu siapa ya?” tanpa diduga untuk
pertama kalinya ia tertawa pada sang ‘teman’ baru.
“Keterlaluan kamu, Ne. Udah selam ini kita sekelas?”
jawabnya dengan wajah kecewa.
“Lamakah? Seingatku belum sebulan, The Freak One!?” jawabnya
kembali tertawa.
“Andre. Kamu Inne kan? Andre Atmadja. Pakai D dan J. Jangan
lupa ya.. “ jawabnya lalu berlalu dengan tak lupa sebelumnya memamerkan lembali
barisan gigi putihnya.
***
Dan dimulailah kisah barunya, pagi awal bahagia dengan
senandung alam dan sepi yang tentram kini benar-benar telah kembali. Hanya penikmatnya
bukan hanya dia bersama kesendirian, namun ia bersama ‘teman’ barunya, pencuri
ulung perhatiannya.
“Selamat pagi dunia, kau tahu hidup ini terlalu pahit jika tak ada
pagi. Matahari adalah awal dari kebahagiaan hingga berlanjut pada berbagai
macam rasa yang mewarnai dunia. Selalu begitu, kau tahu? Sampai kapan pun akan
begitu. Meski dulu aku pernah meragu, bahkan berkesimpulan sesukaku. Kini
hatiku benar-benar yakin. Dan lagi, sendiri memagut sepi, pagiku terlalu
berharga untuk dinikmati sendiri. Ya, boleh kuberi tahu? Kisah ini dimulai dari
pagi bersama ‘the freak one’. Ahaha, orang aneh cendrung tercipta untuk orang
aneh,” suara hatinya kala itu di bawah pohon di belakang sekolah. Duduk bersama
sang pencuri perhatian, bukan lagi menyalurkan keluh kesah namun menepis segala
gelisah.
Subscribe to:
Comments (Atom)